Laman

Selasa, 26 November 2013

Salad Lagi

Food is my mood booster. Pagi ini, demi membayangkan asyiknya paduan salad di bawah ini dengan crunch-nya ayam goreng tepung, saya harus jalan kaki keliling area tempat tinggal saya. Tidak buruk memang, karena setidaknya saya bisa membakar sedikit kalori hehe.. Alhamdulillah


Eniwei, konyolnya saya adalah... Dulu saya pikir salad itu hanya bisa dinikmati di restoran. Baru pas kuliah tinngkat akhir saya membuat sendiri di rumah dengan mayonais botolan. Dan baru minggu ini saya menyadari kalau kol pun bisa diiris tipis dengan pisau untuk menghasilkan potongan halus seperti salad di resto kesukaan saya. Sebelumnya saya tidak pernah berpikir begitu. Saya dulu selalu menggunakan salad yang tidak perlu dipotong. Telmi.

Cumi Saos Tiram

Seingat saya, ini adalah menu andalan saya sejak awal menikah dulu karena saya suka cumi (kecuali cumi-nya Comlabs) dan cara mengolah seperti ini adalah yang paling cepat dan mudah.

Yang di atas ini adalah versi dadakan hot from the wajan, terpaksa masak cumi karena sudah terlanjur mencairkan frozen cumi dari kemarin, haha... Padahal hari ini rencananya bakal makan di luar (dugh!)

Di sini saya menggunakan resep Ibu Sisca namun sepertinya lain kali saya harus mengurangi takaran saos sambalnya karena ini hasilnya terlalu pedas untuk selera saya. Saya juga tidak memberi garam tambahan lagi karena saya rasa asin dari saos tiram sudah cukup.

Eniwei beidewei, untuk rasa saos tiram saya sebenarnya lebih suka yang import berhalal label buatan negeri jiran sono noh karena rasanya lebih sedap dan pengawetnya sedikit. Tapi berhubung yang sebelumnya itu saos terpaksa dibuang karena berjamur (secara... volumenya banyak pisan), dengan merem, kali ini saya membeli yang merek lokal yang ukurannya lebih pemalas-masak friendly.

Oh iya, sebelum-sebelumnya cumi bertekstur keras dan kenyal. Namun, kali ini, karena cumi direndam parutan nanas terlebih dahulu, teksturnya jadi lebih empuk. Kita dapat membagi satu buah nanas kupas menjadi beberapa bagian per porsi lalu dibekukan di freezer/chiller untuk digunakan sebagai pelunak daging/seafood di kesempatan yang lain.

Senin, 25 November 2013

Cantik, Tengah Luar Dalam?

The most beautiful makeup of a woman is passion. But cosmetics are easier to buy. (Yves Saint-Laurent)


Sebuah kutipan sederhana yang menyentil. Kuat karena ada kebenaran yang tak terbantahkan di sana. Tapi apakah kosmetik benar-benar sedosa itu?


Sebagai pribadi, saya ingin menempatkannya pada posisi netral, kembali pada tujuan awalnya. Tidak ingin mengeksploitasi terlalu berlebihan, namun juga tidak akan mengharamkannya dari keseharian saya. Sebagai muslimah, batasan patut dan nilai yang dianut tentunya tak bisa dikompromikan.


Ya, saya suka bermain make up, bereksperimen dengan warna, meskipun baru pada taraf coba-coba. Ada banyak sekali blog yang membahas tata rias yang membuat saya kesengsem. Blog saya yang ini pun insyaAllah akan membahas review beberapa produk yang telah saya coba.


Yang lebih penting dari apapun mengenai make up adalah: kita harus tahu kapan untuk berhenti. Membuat diri merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Bukan hanya dari segi koleksi alat dan bahan yang menguras dompet itu, tapi juga dari segi waktu dan penerimaan diri. Jangan sampai koleksi kita mubazir entah karena tergoda produk baru yang tidak kita perlukan atau mengoleksi hal yang sejenis (ngacung.. Saya si blush on mania..) sampai berganda ria. Mungkin dengan menjualnya kembali atau memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan bisa menjadi pilihan. Namun, tetap, mencegah lebih baik daripada mengobati. Obat adalah racun dalam dosis tertentu. Begitu juga make up, si racun warna warni. Kembali pada kutipan, I found it is hard cause my passion is cosmetics... Bagaimana dengan Anda?

Memory

X: Kamu keren ih, bisa mengingat semuanya..

Y: Ah apanya yg keren. Kalkulator lima belas ribuan bisa mengingat jauh lebih banyak dari pada aku.

Untuk Anakku, Sebuah Manifesto (1)

Nak, ibumu mungkin tidak bisa menemanimu tumbuh. Mungkin juga bukan contoh sempurna untukmu tumbuh menjadi. Tapi itu tidak akan menghalangiku dari menunjukkanmu jalan yang aku ingin engkau melihatnya.

Nak, kamu harus bisa membedakan antara ilmu dan sumber ilmu. Kamu harus bisa membuat prioritas antara yang kamu butuhkan dan kamu inginkan.. Kamu juga harus tahu ilmu mana yang harus kamu kuasai, dan mana yang tidak...

Buku itu sumber ilmu, isinya mengandung ilmu, tapi tidak semua isinya perlu diikuti.
Buku bisa menjadi asset-mu, jika ilmunya engkau daras. Bisa juga menjadi liability-mu, jika kamu menyimpannya sebagai benda kekayaan. Sumber ilmu yang tidak menghasilkan ilmu itu seperti sumber air yang tidak menghasilkan air. Tidak berguna...

Jadi, jangan terlalu sedih jika tidak memiliki suatu buku, sedihlah jika tidak bisa membacanya.
Bersenang-senanglah menghabiskan waktumu untuk membaca buku di perpustakaan ataupun toko buku yang kamu anggap seluruh isinya adalah milikmu, daripada engkau sibuk menjadikan setiap buku yang kau temui/inginkan menjadi koleksimu tapi sejatinya tidak pernah benar-benar kau reguk isinya.
Lebih baik menggunakan sumber dayamu untuk menguasai 10 buku daripada memiliki 1 buku.
Tulislah kembali setiap yang telah kau baca agar pemahamannya dalam kuasamu, bukan sebaliknya.

Setiap kali membaca buku, lakukan dengan sungguh-sungguh karena kamu hanya hidup satu kali. Waktumu singkat sedangkan buku dan ilmu baru lahir setiap hari. Jadi, dengan sekali membaca, ingatlah semua yang penting dari sana. Jangan pernah berpikir akan membaca buku yang sama dua kali.


Nak, kamu tidak pernah terlalu pintar untuk enggan belajar dari siapapun yang engkau temui dalam hidup, dan tidak pernah terlalu bodoh untuk menolak belajar hal baru yang sama sekali tidak engkau ketahui. Engkau tak pernah terlalu muda untuk mulai belajar hal yang besar, dan tak pernah terlalu tua untuk berhenti belajar. Engkau itu jiwa tanpa batas. Engkau sendiri yang menentukan dan menciptakan batas itu.


Ayahmu mungkin akan mengajarkan hal yang berbeda. Tapi kalau kau ikhlas, jalan keduanya akan menjadi milikmu... Seperti sebuah titik di muka bumi ini dapat engkau capai dengan berlari, berenang, atau terbang menujunya..

Jumat, 22 November 2013

Klappertaart Versi 1.0

Beberapa waktu lalu, di sebuah acara saya tidak bisa menahan godaan mengudap klappertaart. Memang sempat terlintas kekhawatiran jangan-jangan kue sedap itu mengandung rhum sebagaimana umumnya di pasaran. Namun, sudah kadung penasaran dan takut mubazir (uhuk), setelah mengendus-endus (seperti kucing manis) dan tidak menemukan kepastian adanya oknum rhum, dengan bismillah saya pun menandaskannya. Tapi apa lacur. Seharian saya jadi kepikiran jangan-jangan kue itu memang mengandung rhum.

Esoknya, setelah berbekal pengguglingan tingkat siput dan memaksa tetangga saya membeli kelapa muda, petualangan pun dimulai.

Saya membuat berdasarkan resep yang dibagikan oleh Mbak Endang Verai 1.0 ini teksturnya lembut, lunak namun terlalu cair karena saya salah menerapkan alat ukur (halo anak FT??) jadi jumlah tepungnya kurang dan proses memasaknya lama. Kendala kedua adalah bubuk kayu manis tidak terdistribusi sempurna karena diameter lubang saringan terlalu besar. Tapi jangan khawatir, penampakan dan rasanya tidak buruk juga kok.. Semoga lain kali bisa bikin yang versi panggang dan sukses. Ada yang mau bikin juga?