Laman

Senin, 25 November 2013

Untuk Anakku, Sebuah Manifesto (1)

Nak, ibumu mungkin tidak bisa menemanimu tumbuh. Mungkin juga bukan contoh sempurna untukmu tumbuh menjadi. Tapi itu tidak akan menghalangiku dari menunjukkanmu jalan yang aku ingin engkau melihatnya.

Nak, kamu harus bisa membedakan antara ilmu dan sumber ilmu. Kamu harus bisa membuat prioritas antara yang kamu butuhkan dan kamu inginkan.. Kamu juga harus tahu ilmu mana yang harus kamu kuasai, dan mana yang tidak...

Buku itu sumber ilmu, isinya mengandung ilmu, tapi tidak semua isinya perlu diikuti.
Buku bisa menjadi asset-mu, jika ilmunya engkau daras. Bisa juga menjadi liability-mu, jika kamu menyimpannya sebagai benda kekayaan. Sumber ilmu yang tidak menghasilkan ilmu itu seperti sumber air yang tidak menghasilkan air. Tidak berguna...

Jadi, jangan terlalu sedih jika tidak memiliki suatu buku, sedihlah jika tidak bisa membacanya.
Bersenang-senanglah menghabiskan waktumu untuk membaca buku di perpustakaan ataupun toko buku yang kamu anggap seluruh isinya adalah milikmu, daripada engkau sibuk menjadikan setiap buku yang kau temui/inginkan menjadi koleksimu tapi sejatinya tidak pernah benar-benar kau reguk isinya.
Lebih baik menggunakan sumber dayamu untuk menguasai 10 buku daripada memiliki 1 buku.
Tulislah kembali setiap yang telah kau baca agar pemahamannya dalam kuasamu, bukan sebaliknya.

Setiap kali membaca buku, lakukan dengan sungguh-sungguh karena kamu hanya hidup satu kali. Waktumu singkat sedangkan buku dan ilmu baru lahir setiap hari. Jadi, dengan sekali membaca, ingatlah semua yang penting dari sana. Jangan pernah berpikir akan membaca buku yang sama dua kali.


Nak, kamu tidak pernah terlalu pintar untuk enggan belajar dari siapapun yang engkau temui dalam hidup, dan tidak pernah terlalu bodoh untuk menolak belajar hal baru yang sama sekali tidak engkau ketahui. Engkau tak pernah terlalu muda untuk mulai belajar hal yang besar, dan tak pernah terlalu tua untuk berhenti belajar. Engkau itu jiwa tanpa batas. Engkau sendiri yang menentukan dan menciptakan batas itu.


Ayahmu mungkin akan mengajarkan hal yang berbeda. Tapi kalau kau ikhlas, jalan keduanya akan menjadi milikmu... Seperti sebuah titik di muka bumi ini dapat engkau capai dengan berlari, berenang, atau terbang menujunya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar